aliran jabariyah
Rabu, 05 Desember 2012
Selasa, 27 November 2012
aliran jabariyah
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Munculnya berbagai kelompok teologi
dalam Islam tidak terlepas dari faktor historis yang menjadi landasan kajian.
Bermula ketika Nabi Muhammad saw wafat, riak-riak perpecahan di antara kaum
Muslim timbul kepermukaan. Perbedaan pendapat dikalangan sahabat tentang siapa
pengganti pemimpin setelah Rasul, memicu pertikaian yang tidak bisa dihindari.
Semua terbungkus dalam isu-isu yang bernuansa politik, dan kemudian berkembang
pada persoalan keyakinan tentang tuhan dengan mengikut sertakan
kelompok-kelompok mereka sebagai pemegang “predikat kebenaran”.
Perpecahan semakin meruncing ketika
pada masa pemerintahan Ali, hal yang sentral diperdebatkan adalah masalah ”Imamah”
atau kepemimpin. Golongan Syi’ah yang pro terhadap Ali sangat mendukung
bahwa imamah harus diserahkan kepada Ali dan keturunannya. Sedangakan Khawarij
dan Mu’tazilah menentang dengan pendapat mereka, bahwa siapapun berhak
menduduki kursi kepemimpinan, termasuk budak. Jika ia memang dari kaum Muslim
yang cakap dan berkualitas.
Terjadinya pembunuhan Utsman ra.
(17 Juni 656 M), oleh pemberontak dari Mesir. Merupakan fase kedua sengitnya
perdebatan mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah[1].
Tidak berhenti sampai di situ perdebatan semakin meluas tentang persoalan “dosa
kecil” sampai pada “dosa besar”. Bahkan pada ranah “keimanan”. Dan penentuan
siapa yang dianggap “mu’min”, “kafir”, “fasik”, dan bagaimana kedudukan mereka
di akhirat nanti, serta tindakan Tuhan bagi perbuatan mereka.
Yang kemudian menjadi tema sentral
dalam pembahasan makalah ini adalah memandang “Perbuatan Manusia” dari kaca
mata Jabariyah, sebagai salah satu aliran yang pernah eksis dan menjadi
bahan perbincangan oleh banyak orang. Dan untuk memfokuskan bagi para pembaca,
maka rumusan masalah yang akan menjadi pemaparan penulis sebagai berikut;
- Rumusan Masalah
- Bagaimana sejarah munculnya Jabariyah?
- Siapa para pemuka dan bagaimana doktrin aliran Jabariyah?
3. Bagaimana
analisis tentang jabariyah?
3. Tujuan Penulisan
- Mengetahui sejarah munculnya Jabariyah
- Mengetahui para pemuka dan doktrin aliran jabariyah
- Mengetahui analisis tentang jabariyah
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah munculnya jabariyah
Kata Jabariyah berasal dari
kata jabara yang berarti memaksa. Jabariyah berasal dari kata jabara
yang menganndung arti memaksa dan mengharuskan nya melakukan sesuatu. Kalau
dikatakan, Allah mempunyai sifat Al-Jabar (dalam bentuk mubalaghah),
itu artinya Allah Maha Memaksa. Ungkapan al insane majbur (bentuk
isim maf’ul) mempunyai arti bahwa manusia dipaksa atau terpaksa.
Selanjutnya, kata jabara (bentuk pertama), setelah ditarik menjadi jabariyah
(dengan menambah ya nisbah), memilki arti suatu kelompok atau aliran
(isme). Dalam bahasa Inggris, Jabariyah disebut fatalism atau
predestination. Dalam kamus Jhon M.Echols, pengertian fatalism adalah
kepercayaan bahwa nasib menguasai segala-galanya sedangkan predestination
adalah takdir[2].Sehingga
makna secara umum adalah bahwa perbuatan manusia telah ditentukan oleh Qodo dan
qadar tuhan.
Menurut catatan sejarah, paham
jabariyah ini diduga telah ada sejak sebalum agama Islam datang kemasyarakat
Arab. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah
memberikan pengaruh besar terhadap hidup mereka, dengan keadaan yang sangat
tidak bersahabat dengan mereka pada waktu itu. Hal ini kemudian mendasari
mereka untuk tidak bisa berbuat apa-apa, dan menyebabkan mereka semata-mata
tunduk dan patuh kepada kehendak Tuhan[3].
Dalam dunia yang demikian, mereka tidak banyak melihat jalan untuk merubah
keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Mereka merasa
dirinya lemah dan tak berkuasa dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup yang
ditimbulkan suasana padang pasir. Dalam kehidupan sehari-hari mereka banyak tergantung
pada kehendak nature. Hal ini membawa mereka pada sikap fatalistis[4].
Faham al-jabar, kelihatannya
ditonjolkan buat pertama kali dalam sejarah teologi Islam oleh al-Ja’d ibn
Dirham. Tetapi yang menyiarkannya adalah Jahm ibn Safwan dari Khurasan. Jahm
yang terrdapat dalam aliran jabariyah sama dengan Jahm yang
mendirikan golongan al-Jahmiah dalam kalangan Murji’ah sebagai sekretaris dari
Syuraih ibn al-Harits, ia turut dalam gerakan melawan kekuasaan Bani Umayyah.
Dalam perlawanan itu Jahm sendiri dapat ditangkap dan kemudian dihukum bunuh
ditahan 131 H[5].
Sebenarnya benih-benih faham al-jabar
sudah muncul jauh sebelum kedua tokoh di atas. Benih-benih itu terlihat
dalam peristiwa sejarah berikut ini;
- Suatu ketika Nabi menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar dalam masalah takdir Tuhan. Nabi melarang mereka untuk memperdebatkan persoalan tersebut, agar terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat Tuhan mengenai takdir.
- Khalifah Umar bin Khathab pernah menangkap seorang yang ketahuan mencuri. Ketika diinterogasi, pencuri itu berkata “Tuhan telah menentukan aku mencuri.” Menndengan ucapan itu, Umar marah sekali dan menganggap orang itu telah berdusta kepada Tuhan. Oleh karena itu, Umar memberikan dua jenis hukuman kepada pencuri itu. Pertama, hukuman potong tangan karena mencuri. Kedua, hukuman dera karena mengggunakan dalil Takdir Tuhan.
- Khalifah Ali bin Abi Thalib seusai Perang Siffin ditanya oleh seorang tua tentang qadar (ketentuan) Tuhan dalam kaitannya dengan pahala dan siksa. Orang tua itu bertanya, “Bila perjalanan (menuju perang Siffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan, tak ada pahala sebagai balasannya.” Ali menjelaskan bahwa qadha dan qadar bukanlah paksaan Tuhan. Ada pahala dan siksa sebagai balasan amal perbuatan manusia. Sekiranya qadha dan qadar itu merupakan paksaan, batallah pahala dan siksa, gugur pulalah makna janji dan ancaman Tuhan, serta tidak ada celaan Allah atas pelaku dosa dan pujian-Nya bagi orang-orang yang baik.
- Pada pemerintahan Bani Umayyah. Pandangan tentang al-jabar semakin mencuat ke permukaan. Abdullah bin Abas, melalui suratnya, memberikan reaksi keras kepada penduduk Syiria yang diduga berfaham jabariyah[6].
Paparan di atas telah memberikan
informasi, bahwa benih-benih faham jabariyah telah lahir semenjak Rosulullah
masih hidup dan berkembang semakin kompleks setelah beliau wafat bahkan ketika
pemerintahan Umar dan Ali yang meluas hingga masa kekuasaan Bani Umayyah.
B.
Para pemuka dan doktrin aliran jabariyah
Sebelum membahas lebih jauh tentang
pemuka dan doktrin Jabariyah, maka perlu dipahami dengan seksama, jika terdapat
beberapa penggolongan tentang aliran-aliran dalam Islam, sebagaimana yang
dikutip oleh Hanafi dalam bukunya as-Syihritsani. Penggolongan tersebut sebagai
berikut;
- Sifat-sifat Tuhan dan peng-Esaan sifat. Perselisihan tentang pokok persoalan ini menimbulkan aliran-aliran Asy-‘Ariyah, Karramiah, Mujassimah dan Mu’tazilah.
- Qadar dan Keadilan Tuhan. Perselisihan tentang soal ini menimbulkan golongan-golongan: Qodariah, Nijariah, Jabariyah, Asy-‘Ariyah dan Karramiah.
- Sama’ dan Akal (maksudnya apakah kebaikan dan keburukan hanya diterima dari syara’ atau dapat diketemukan akal pikiran), keutamaan nabi dan imamah (khalifah). Persoalan ini menimbulkan aliran: Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, Karramah dan Asy’Ariyah[7].Dari penggolongan beberapa aliran tersebut, Jabariyah masuk pada ranah pembahasan Qadar. Untuk lebih memahamkan bagaimana jabariyah memandang Qadar, maka akan tersajikan pada pembahasan dibawah ini serta para pemuka kedua golongan tersebut adalah;
- Jahm bin Shafwan
Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus
Jahm bin Safwan. Ia berasal dari Khurasan, bertempat tinggal di Khufah; ia
seorang da’i yang fasih dan lincah (otrator); ia menjabat sebagai sekretaris
Harits bin Surais, seorang mawali yang menentang pemerintah Bani Umayyah di
Khurasan.
Adapun doktrin Jahm tentang hal-hal yang berkaitan
dengan teologi adalah;
1) Manusia tidak
mampu untuk berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai
kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan. Pendapat Jahm tentang
keterpaksaan ini lebih terkenal dibanding dengan pendapatnya tentang surga dan
neraka, konsep iman, kalam Tuhan, meniadakan sifat Tuhan, dan melihat Tuhan di
akhirat.
2) Iman adalah
ma’rifat atau membenarkan dalam hati. Dalam hal ini, pendapatnya sama
dengan konsep iman yang diajukan kaum Murji’ah[8].
3) Kalam Tuhan
adalah Makhluk. Al-Qur’an adalah mahluk yang dibuat sebagai suatu yang baru
(hadis). Adapun fahamnya tentang melihat Tuhan, Jaham berpendapat bahwa, Tuhan sekali-kali
tidak mungkin dapat dilihat oleh manusia di akhirat kelak.
4) Surga dn neraka
tidak kekal. tentang keberadaan syurga-neraka, setelah manusia mendapatkan
balasan di dalamnya, akhirnya lenyaplah syurga dan neraka itu. Dari pandangan
ini nampaknya Jaham dengan tegas mengatakan bahwa, syurga dan neraka adalah
suatu tempat yang tidak kekal[9].
- Ja’ad bin Dirham
Al-Ja’d adalah seorang Maulana Bani Hakim, tinggal
di Damaskus. Ia dibesarkan di dalam lingkungan orang Kristen yang senang
membicarakan teologi. Semula ia dipercaya untuk mengajar dilingkungan
pemerintah Bani Umayah, tetapi setelah tampak pikiran-pikirannya yang
controversial, Bani Umayyah menolaknya. Kemudian Al-Ja’ad lari ke Kufah dan di
sana ia bertemu dengan Jahm, serta mentransfer pikirannya kepada Jahm untuk
dikembangkan dan disebarluaskan.
Doktrin pokok Ja’ad secara umum sama dengan pikiran
Jahm, yaitu:
1) Al-Quran itu
adalah makhluk. Oleh karena itu, dia baru. Sesuatu yang baru itu tidak
dapat disifatkan kepada Allah.
2) Allah tidak
memiliki sifat yang serupa dengan makhluk, seperti berbicara, melihat, dan
mengengar.
3) Manusia terpaksa
oleh Allah dalam segala-galanya[10].
Kedu tokoh di atas termasuk pada
golongan Jabariyah ekstrem, dan adapun perbedaan yang paling signifikan
dari kedua golongan tersebut terletak pada pendapat tentang perbuatan manusia
itu. Kelompok ekstrem memandang bahwa manusia tidak mempunyai daya,
tidak mempunyai kehendak sendiri dan tidak mempunyai pilihan, manusia dalam
perbuatan-perbuatannya adalah dipaksa dengan tidak ada kekuasaan, kemauan dan
pilihan baginya[11].Sedangkan
menurut kaum moderat, tuhan memang menciptakan perbuatan manusia, baik
perbuatan jahat maupun baik, tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya.
Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan
perbuatannya.
Yang termasuk pemuka Jabariyah moderat adalah;
a) An-Najjar
Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhammad An-Najjar
(wafat 230 H). Para pengikutnya disebut An-Najjariyah atau Al-Husainiyah.
Di antara pendapat-pendapatnya adalah;
1) Tidak
semua perbuatan manusia bergantung kepada Tuhan secara mutlak” artinya
Tuhanlah yang menciptakan perbuatan manusia, baik perbuatan itu positif maupun
negative. Tetapi dalam melakukan perbuatan itu, manusia mempunyai andil.
Daya yang diciptakan dalam diri manusia oleh Tuhan mempunyai aspek, sehingga
manusia mampu melakukan perbuatan itu. Daya yang diperoleh untuk mewujudkan
perbuatan-perbuatan inilah yang disebut dengan kasb/acquisition[12].
2) Tuhan tidak dapat
dilihat di akhirat. Akan tetapi, An-Najjar menyatakan bahwa
tuhan dapat saja memindahkan potensi hati (ma’rifat) pada mata sehingga
manusia dapat melihat Tuhan[13].
b) Adh- Dhirar
Nama lengkapnya adalah Dhirar bin
Amr. Pendapatnya tentang perbuatan manusia sama dengan Husein An-Najjar, yakni
bahwa manusia tidak hanya merupakan wayang yang digerakkan dalang. Manusia
mempunyai bagian dalam perwujudan perbuatannya dan tidak semata-mata dipaksa
dalam melakukan perbuatannya. Secara tegas, Dhirar mengatakan bahwa satu
perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pelaku secara bersamaan, artinya perbuatan
manusia tidak hanya ditimbulkan oleh Tuhan, tetapi juga oleh manusia itu
sendiri. Manusia turut berperan dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya.
C.
Analisis Tentang Jabariyah
Penjelasan yang tidak sedikti
mengenai Jabariyah di atas, memunculkan inspirsi untuk membicarakan Jabariyah
lebih dalam lagi. Hal pertama yang akan menjadi fokus utama pembicaraan adalah
mengenai iktiqad Jabariyah tentang penyerahan totalitas dalam qada dan
Qadar kepada Tuhan.
Apakah buruknya orang yang
berpegang kepada iktiqad jabariah ini? Secara tidak langsung, dalam iktiqad ini
mereka telah menuduh Allah. Tanpa kesadaran, dia telah menuduh Allah,
seolah-olah Dia itu jahat dan zalim . kepada umat-Nya. Umpamanya, kalau
seseorang itu miskin dan kemudian dia mengiktiqadkan bahwa manusia ini tidak
ada usaha dan ikhtiar, kerana miskin itu sudah ditentukan kepada dirinya oleh
qadha dan qadar Tuhan, dan manusia ini terpaksa tunduk saja kepada kuasa-Nya,
maka seolah-olah dia telah menuduh bahawa Allah-lah yang telah memiskinkan dia,
atau Allahlah yang telah menyusahkan dia. Dia tidak ada usaha dan ikhtiar untuk
terlepas dari kemiskinan dan kesusahan tersebut.
Apakah bukti bahwa kebanyakan manusia
ini berpegang kepada iktiqad jabariah dari segi sikap, perbuatan dan tutur
katanya walaupun ia mengkaji dan kitabnya adalah kitab dan pelajaran Ahli
Sunnah Wal Jamaah?
Untuk membuktikannya, coba kita tanya seseorang yang
ditimpa kemiskinan tentang mengapa dia miskin. Nanti dia akan menjawab, “Apa
boleh buat, sudah taqdir Allah!” Artinya, dia sudah menuduh Allah memiskinkan
dirinya. Semua manusia telah terjebak kepada jabariah. Padahal dia belajar
iktiqad Ahli Sunnah Wal Jamaah.
Tetapi dari kata-katanya, dia telah
menunjukkan seolah-olah tidak ada pilihan untuk dirinya. artinya, apa saja yang
telah menimpa dirinya, itulah yang telah ditentukan oleh Allah.
Akan tetapi kesimbangan dari
analisis di atas, bahwa mempercayai takdir tidak identik dengan mempercayai
paham Jabariyah. Semuanya akan menjadi demikian itu hanya apabila kita tidak
memberikan peranan apapun kepada manusia dalam menciptakan perilakunya sendiri,
yakni dengan menyerahkannya bulat-bulat kepada takdir. Padahal sungguh tak
dapat diterima apabila kita mengatakan bahwa Allah SWT melakukan segala sesuatu
tanpa perantaraan.
Qadha dan qadar tidak memiliki arti
lain kecuali terbinanya sistem sebab akibat umum atas dasar pengetahuan dan
kehendak Ilahi. Di antara konsekuensi penerimaan teori kausal dan kemestian
terjadinya akibat pada saat adanya penyebab, serta keaslian hubungan antara
keduanya, ialah bahwa kita harus mengatakan bahwa nasib setiap yang telah
terjadi berkaitan dengan sebab-sebab yang mendahuluinya.
Dari makna ini, kita berani mengatakan
bahwa ucapan yang menyebutkan bahwa kepercayaan Jabariyah berasal dari
kepercayaan kepada qadha dan qadar Ilahi, sungguh merupakan puncak kebodohan.
Oleh sebab itu, wajiblah kita menyanggah kepercayaan seperti ini agar terlepas
dari kesimpulan tersebut.
Pandangan sekilas tentang
indikasi-indikasi paham Jabariah, merupakan refleksi dari kehidupan manusia
yang secara langsung maupun tidak lansung, sengaja ataupun tidak berpulang
kepada tawakal atau kepasrahan kepada Tuhannya. Hal ini menimbulkan ketenangan
tersendiri setelah adanya usaha ataupun ikhtiar yang dilakukan oleh seorang
hamba.
BAB III
PENUTUP
- A. Kesimpulan
- Faham al-jabar, kelihatannya ditonjolkan buat pertama kali dalam sejarah teologi Islam oleh al-Ja’d ibn Dirham. Tetapi yang menyiarkannya adalah Jahm ibn Safwan dari Khurasan. Jahm yang terrdapat dalam aliran jabariyah sama dengan Jahm yang mendirikan golongan al-Jahmiah dalam kalangan Murji’ah sebagai sekretaris dari Syuraih ibn al-Harits, ia turut dalam gerakan melawan kekuasaan Bani Umayyah. Dalam perlawanan itu Jahm sendiri dapat ditangkap dan kemudian dihukum bunuh ditahan 131 H. Akan tetapi benih-benihnya telah ada sejak zaman Rasulullah saw.
- Para pemuka Jabariyah baik yang ekstrem dan moderat adalah; Jahm bin Safwan, Ja’ad bin Dirham, An-Najja dan Adh-Dhirar. Adapun doktrin aliran ini; Kelompok ekstrem memandang bahwa manusia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri dan tidak mempunyai pilihan, manusia dalam perbuatan-perbuatannya adalah dipaksa dengan tidak ada kekuasaan, kemauan dan pilihan baginya. sedangkan menurut kaum moderat, tuhan memang menciptakan perbuatan manusia, baik perbuatan jahat maupun baik, tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. Inilah yang dimaksud dengan kasab (acquisition). Dalam faham kasab, manusia tidaklah majbur (dipaksa oleh tuhan), tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan tuhan.
- Analisis tentang Jabariyah bermaksud mengaitkan iktiqad yang dipegangnya dengan realitas kehidupan manusia sebagai hamba. Kepasrahan kepada Tuhan atas segala usaha ataupun ikhtiar menunjukkan bahwa manusia akan kembali kepada Tuhannnya sebagai pihak penentu.
B.
Saran
Tersaji dan tersusunnya makalah
dengan tema Jabariyah, berusaha mengungkap historisasi pertumbuhannya, yang
dimulai dari benih sampai pada terbentuknya menjadi institusi dengan beberapa
doktrin yang menjadi karakteristik aliran tersebut. Para pemuka dan penjelasan
lebih lanjut tentang doktrin yang diajarkan menjadi ulasan kesekian kalinya.
Sampainya tulisan ini kepada para
pembaca, diharapkan mampu memancing gairah kepedulian untuk ikut berpartisipasi
menuju pembahasan yang lebih kompleks lagi. Oleh karena itu penulis sedikit
menyengaja memberikan ruang hampa untuk tempat para partisipator menyumbangkan
ide-ide yang konstruktif dan imajinatif sebagai calon pemuka intelektual masa
depan.
Sehingga adanya kekurang puasan
ketika membaca hasil karya ini, adalah implikasi bahwa penulis termasuk hamba
Tuhan yang eksis di alam semesta ini, dan memerlukan potensi orang lain untuk
lebih produktif.
Karena itulah, tarian lisan yang berupa gerak
positif maupun negative terhadap kalimat-kalimat ini adalah landasan bagi
kesempurnaan hakikat yang dituju.
[1] K. Ali, Sejarah Islam Tarikh Pramodern ( Cet.
Ke-3 ; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2000 ), h. 132.
[3]
Abuddin
Nata, M.A, Ilmu kalam, Filsafat, dan tasawuf,. (Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 1995), H.40
[4]Harun
Nasution, Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (
Cet.V, Jakarta: UI Press, 1986), h.32.
[6]
Rosihon Anwar, Ilmu
Kalam….,h.64-65
[7]
M. Hanafi,
Theologi Islam, (Jakarta:Pustaka Al-Husna, 1992), h.58
[8]
Rosihon Anwar, Ilmu
Kalam…, h.67
[9]
Taib
Thakhir Abd. Mu’in, Ilmu Kalam ( Cet. Ke- 8; Jakarta : Penerbit Wijaya,
1980 ), 102.
[10]
Rosihon Anwar, Ilmu
Kalam…, h.68
[11]
Harun
Nasution, Teologi Islam…, h.34.
[12]
Rosihon Anwar, Ilmu
Kalam…, h.68
Langganan:
Postingan (Atom)